oleh

Puasa Meningkatkan Kesadaran Sosial

-Opini-8 views

JAKARTA.OKEYBOZ.COM, OPINI – Bulan Ramadhan sebentar lagi. Bila terlihat hilal, maka tiba masa puasa. Setiap bulan suci ini umat Islam diwajibkan melakukan ibadah puasa, meski bulan Ramadhan 1442 H yang akan dilewati umat Islam di tahun 2021 mungkin tidak jauh beda dengan Ramadhan 1441 H karena berlangsung di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu. Sedangkan puasa dalam bahasa Arab disebut Shiyâm atau Shaûm – keduanya sama-sama kata dasar dari kata kerja Shaa-ma, berarti menahan dan tidak bepergian dari satu tempat ke tempat lain.

Kewajiban puasa Ramadhan berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.Salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang paling terkenal tentang rukun Islam adalah yang berbunyi : Islam didirikan atas 5 perkara; [1] Bersyahadat bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT dan bahwasanya Muhammad adalah utusan-Nya, [2] Mendirikan shalat, [3] Menunaikan zakat, [4] Berpuasa di bulan Ramadhan, dan [5] Melaksanakan haji bagi yang mampu. Hadits tersebut sangat populer di kalangan muslim karena menjadi tiang atau dasar bagi sendi-sendi syariat Islam. Selain karena menjadi tiang, alasan kepopuleran lainnya adalah karena Nabi Muhammad SAW menjelaskan rukun-rukun itu ketika malaikat Jibrîl yang menjelma menjadi seorang pemuda menanyakannya.

Bulan Ramadhan bisa diibaratkan sebagai lahan subur yang siap ditaburi benih-benih kebijakan. Siapa yang menabur, maka ia akan menuai hasil sesuai yg ditanam. Siapa yang melatih diri dalam bentuk menahan diri dengan berpuasa, niscaya ia akan sukses menghadapi segala tantangan ke depan.

Semua orang dipersilahkan menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya. Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna. Dari sini sangat penting memanfaatkan lahan itu dan penting pula memilih benih yang ditabur.

Baca Juga  Politik Identitas, Mengapa Dipersoalkan?

Puasa merupakan cara yang paling efektif untuk melatih diri menghadapi segala tantangan yang merupakan syarat mutlak untuk meraih kesenangan dan kesejahteraan. Ia dibutuhkan oleh setiap orang, baik kaya atau miskin, muda atau tua, lelaki atau perempuan, sehat atau sakit, manusia modern yang hidup masa kini maupun manusia primitif yang hidup masa lalu.

Karena itu, cara yang paling efektif untuk menciptakan kemampuan itu adalah berpuasa. Itu pula sebabnya kenapa sejak dahulu hingga kini putera-puteri Adam berpuasa dengan berbagai tujuan. Bahkan, tidak jarang mereka sendiri yang mewajibkan atas dirinya, Agaknya, itu sebabnya al-Qur’an menggunakan kata “diwajibkan” pada firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (al-Baqarah: 183). Puasa dibutuhkan oleh setiap manusia kapan dan di manapun, maka tidak heran jika semua agama mengenalnya. Bukan hanya agama-agama samawi, Yahudi, Kristen, dan Islam, tetapi selainnya pun berpuasa.

Para pakar perbandingan agama menyebutkan bahwa orang-orang Mesir Kuno pun – sebelum mereka mengenal agama samawi – telah mengenal puasa. Dari mereka praktek puasa beralih kepada orang-orang Yunani dan Romawi. Puasa juga dikenal dalam agama penyembah bintang berpuasa tiga puluh hari dalam setahun, ada pula puasa sebanyak 16 hari dan ada juga yang 27 hari. Puasa mereka sebagai penghormatan kepada bulan, juga kepada bintang Mars yang dipercaya sebagai bintang nasib, dan juga kepada matahari.

Walaupun inti dari setiap puasa adalah menahan diri, namun cara dan tujuan akhirnya berbeda-beda antara satu agama dengan agama lain, bahkan boleh jadi antara seorang dengan orang lain. Dari sini diperlukan pengetahuan tentang tata cara puasa menurut tuntunan agama serta tujuan pokoknya, bahkan diperlukan pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan kehadirannya dan benih-benih apa saja yang harus ditabur pada lahannya.

Baca Juga  Wetmen Sinaga: Pertambangan Rakyat Harus Sesuai UU yang Berlaku

Amalan berpuasa memang telah lama menjadi ritual agama-agama di dunia. Tatkala amalan ini menjadi perhatian dunia apabila umat Islam seluruh dunia berpuasa serentak pada bulan Ramadhan, amalan berpuasa ini telah lebih awal menjadi amalan lazim masyarakat bukan Islam terdahulu seperti di zaman Mesir kuno,Yunani Greek, bangsa Romawi dan China kuno. Dan ritual ini masih dipraktikan oleh sebagian agama seperti Kristian, Judaism, Buddhism, Hindusim, Jainism dan sebagainya.

Konsep puasa difahami oleh agama-agama umumnya sebagai satu kaedah penyucian jiwa dan raga manusia, selain sebagai langkah penyatuan dan ketakwaan kepada Tuhan. Secara resmi konseptualnya puasa difahami sebagai suatu tindakan ‘menahan diri daripada melakukan sesuatu’. Justeru walaupun amalan berpuasa ini terdapat dalam agama-agama lain, puasa dari segi syariat dan pengisiannya adalah berbeda-beda.

Dalam agama Yahudi, amalan berpuasa telah wujud dalam beberapa hari berdasarkan kalender bulan Yahudi. Pihak synagogue juga berkuasa menyuruh penganut Yahudi untuk berpuasa apabila ditimpa musibah. Namun amalan berpuasa yang wajib ialah pada hari yang dinamakan Yom Kippur (Hari Penebusan atau Pembersihan Dosa), satu-satunya puasa yang diperintahkan dalam hukum Taurat (Mosaic Law). Setelah menfokuskan 10 hari untuk tujuan bertaubat sejak Rosh Hashanah (Tahun Baru mengikut kalender Yahudi), diikuti dengan berpuasa pada hari Yom Kippur untuk memastikan taubat dan diampunkan dosa-dosa tahun sebelumnya kerana mengikut kepercayaan mereka pada hari Yom Kippur itulah nasib semua penganut Yahudi ditentukan untuk tahun berikutnya.

Terdapat pula segolongan penganut Yahudi ortodoks yang berpuasa seperti mana puasa Nabi Yahya, Nabi Musa dan Nabi Ilyas yang berpuasa selama empat puluh hari lamanya. Ada juga yang hanya berpuasa pada hari Isnin dan Khamis secara sukarela. Adapun pada hari Yom Kippur, golongan Yahudi berpuasa sejak terbenamnya matahari sehinggalah terbenamnya matahari keesokkan harinya menjadikan mereka berpuasa selama lebih kurang 25 jam.

Baca Juga  Mana Yang Lebih Genting, Berlakunya UUD-45 PALSU atau Baliho HRS?

Dalam agama Kristian waktu berpuasa tidak ditetapkan secara spesifik oleh agama, semisal Kristen Protestan tidak mewajibkan untuk berpuasa, sedangkan Kristen Katolik mewajibkan untuk berpuasa pada waktu-waktu tertentu. Amalan berpuasa dalam agama Kristian pada masa ini telah mengalami perubahan apabila tidak ada pengkhususan terhadap amalan berpuasa apabila ia dianggap perbuatan sukarela. Ada yang menganggap Bible hanya memperkenalkan puasa sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat. Namun tradisi pernah membuktikan penganut Katolik berpuasa selama 40 hari bermula dari “Ash Wednesday” sehingga hari “Easter”. Mereka juga berpuasa pada hari “Good Friday”, “Rogetion Days”, “Ember Day” dan hari-hari lain secara sukarela.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *